Runtuhnya Golkar dan Tampilnya Jawara Baru, Partai Demokrat
April 11th, 2009
Australia - “Demokrat Dapat Nangkanya & Golkar Dapat Getahnyaâ€. Runtuhnya suara Partai Golkar di Pemilu 2009 telah diprediksi banyak pihak. Sejumlah lembaga survei papan atas secara konsisten menempatkan Golkar di kelas tiga besar sejak awal 2009 lalu. Kini, teka-teki itu terjawab sudah. Hasil quick-count sejumlah lembaga survey, baik LSI, LSN, LP3ES, dan CIRUS, secara serentak bersepakat ‘menjungkalkan’ Golkar dari predikat pemenang di Pemilu 2004 menjadi pecundang di Pemilu 2009. Memang belum final hasil quick count itu, namun dari gajala politik dan trend elektabilitas yang muncul sejak akhir 2008, memang rendah kemungkinan Golkar untuk mempertahankan mahkota politik yang sempat diraihnya pada pesta demokrasi 2004 lalu. Lalu mengapa kondisi ini mendera Golkar? Secara general, fluktuasi perolehan suara Golkar kali ini dipengaruhi oleh dua faktor, yakni swing voters dan civic disangagement. Swing voters adalah gejala lunturnya afiliasi politik pemilih kepada partai pilihan lamanya sebagai respon politik yang logis atas mandulnya kinerja partai dalam memenuhi janji-janji politiknya kepada konstituen. Sementara civic disangagement bisa diartikan sebagai sikap tegas publik yang berusaha mengambil jarak dengan arena politik sebagai konsekuensi logis dari semakin matangnya perilaku pemilih untuk berpolitik secara rasional. Kuatnya dua kecenderungan itu memicu maraknya pembangkangan politik di tingkat konstituen (protest voters), yang kemudian memutuskan diri mencabut dukungan politiknya serta menggelontorkannya kepada partai politik lain yang lebih mampu memikat dan meyakinkan mereka. Apa yang dialami Golkar kali ini, tidak jauh berbeda dengan kondisi patologis yang dihadapi PDIP pada Pemilu 2004 lalu, yang perolehan suaranya terpaksa merosot di bawah suara modal, yakni dari 23 persen menjadi 19 persen. Golkar yang di Pemilu 2004 lalu masih nangkring di angka perolehan suara 20 persen, bisa jadi di pemilu 2009 ini jika hasil quick count sesuai dengan penghitungan akhir KPU, akan mentok di angka sekitar 15 persen. Jika itu terjadi, maka Golkar akan menelan pil pahit dengan kehilangan 5 persen dukungannya, dan akan tercatat sebagai perolehan suara terburuk dalam sejarah pertarungan politik Golkar di pemilu nasional. Realitas politik ini merupakan kabar gembira bagi demokrasi, sebagai bukti meningkatnya rasionalitas perilaku pemilih, yang selanjutnya memproduksi critical voters atau smart voters yang pada akhirnya menguatkan dua fenomena di atas, yakni swing voters dan civic disengagement. Lalu apa faktor yang mempengaruhi kuatnya swing voters dan civic disengagement tersebut? Tentu banyak varian penjelasan yang bisa digunakan menjawab pertanyaan itu. Namun yang pasti, selama periode pemerintahan KIB (2004-2009), Golkar terbukti kurang cermat dalam memainkan strategi politiknya yang berakibat pada loyonya performa si beringin perkasa ini. Sebagai partai pemenang pemilu 2004 dan salah satu pemilik saham besar di pemerintahan dengan tampilnya Ketum DPP Partai Golkar di kursi Wapres, Golkar seharusnya memiliki kesempatan leluasa untuk merekonsolidasi kekuatan politiknya jelang 2009 ini. Tapi itu tidak terjadi. Sebaliknya, Golkar justru terkunci oleh bayang-bayang Partai Demokrat dengan SBY sebagai patron client-nya, yang sebenarnya memiliki modal suara lebih rendah dibanding Golkar. Patut dicatat, secara umum, dalam lima tahun waktu pemerintahan setidaknya terdapat tiga fase politik. Pertama, fase bulan madu politik dan konsolidasi awal. Keadaannya, partai yang diakomodasi di kabinet akan senang, yang tidak diakomodasi akan oposan. Kedua, fase transisi. Situasinya, konsolidasi sudah lewat tapi masa pemilu mendatang belum dekat. Ketiga, fase konstalasi dan rekonsolidasi di masing-masing internal partai. Semua partai bergerak, termasuk partai kecil. Nah, dalam tiga fase itu, Golkar jelas-jelas tidak mampu menempatkan dirinya sebagai pionir yang lihai mengelola setiap isu untuk menangguk keuntungan berupa popularitas politik partainya. Karena merasa di atas angin, Golkar cenderung lebih getol memenuhi target-taget kekuasaannya dengan memainkan sejumlah isu, yang notabene secara jangka panjang sangat rentan bagi dirinya. Ambil contoh, menjelang reshuffle kedua dan ketiga, Golkar menjadi bagian dari garda depan gerakan oposisi di parlemen dengan mengusung sejumlah wacana penggunaaan hak interpelasi kepada eksekutif, yang dengan mudah diendus oleh banyak pihak sebagai upaya politik Golkar untuk menambah jatah kursi di jajaran KIB. Buktinya, wacana interpelasi selalu berakhir dengan antiklimaks, dan partai-partai berubah sikap secara total dari yang semula keras menjadi mlempem. Itu terjadi mulai dari agenda interpelasi import beras, interpelasi busung lapar, interpelasi resolusi Iran, interpelasi Lapindo, interpelasi BLBI, dan lainnya. Memang benar, supaya Golkar tidak tenggelam dan terkunci oleh bayang-bayang SBY dengan Partai Demokrat-nya, maka sepatutnya Golkar memainkan ‘politik dua muka’ atau ‘politik standard ganda’. Di satu pihak menggempur kebijakan pemerintah, sementara di sisi lain dirinya menjadi bagian dari pembuat kebijakan itu sendiri. Celakanya, ‘politik dua muka’ ini kurang termanage dengan baik. Walhasil, bukannya meningkatkan citra Golkar, justru kian mempertegas watak oportunisme dan pragmatisme Golkar, yang secara lamban tapi pasti menggerogoti popularitas partainya di mata publik. Rakyat yang semakin cerdas kini dengan mudah bisa membedakan antara gerakan oposisi yang genuine ataukah sebatas oposisi temporal yang menjadi kendaraan politik untuk mencapai target-target pragmatis partai. Sementara selama ini, kebanyakan wacana oposisi yang terbangun di Senayan umumnya tidak bersifat genuine, terlembaga, dan punya basis politik yang kuat untuk berhadapan dengan pemerintah. Sebaliknya, gerakan oposisi itu acapkali bersifat temporer, ad hock, dan cair. Koalisi hanya terbangun oleh dinamika waktu, isu, dan konteksnya. Walhasil, upaya interpleasi berujung pada antiklimaks partai-partai, wabil khusus Golkar, dengan melunak dan berubah sikap tunduk di hadapan pemerintah. Yang awalnya garang menjadi pendiam, yang semula vocal menjadi melempem. Aspirasi dan kepentingan rakyat jadi terbengkelai. Parahnya, reaksi itu terjadi berulang-ulang, terus menerus, dan ujungnya kini menjadi hantaman balik yang keras bagi Parpol tersebut. Perolehan suara mereka turun. Kepercayaan rakyat melemah. Barangkali inilah hukuman setimpal yang layak diberikan. Selain itu, Golkar tampaknya juga terlalu lelap dininabobokan oleh kenyamanan politik periode 2004-2009. Sekali lagi, Golkar merasa di atas angin. Wapres Jusuf Kalla yang notabene ketua umum Golkar berada di posisi aman dari segala gempuran politik. Barangkali memang itulah konsekuensi dari sistem presidensial. Sekalipun Wapres dipilih dalam paket bersama presiden di Pilpres, namun akuntabilitas kekuasaan tidak bisa dipindahkan. Akibatnya, presiden tetap menjadi sasaran tembak utama dari setiap gerakan oposisi yang ada di parlemen, baik yang genuine maupun temporal. Kenyamanan ini tampaknya membuat para kader Golkar mengalami surplus kepercayaan diri dan terfokus pada target-target kue kekuasaan yang terhidang di depan mata, hingga lupa bahwa ada “pekerjaan rumah†yang lebih besar yang harus diselesaikan. “Pekerjaan rumah†yang dimaksud adalah menata kembali mesin politik partai, membangun komunikasi antar elit di internal partai yang belakangan terkesan jalan sendiri-sendiri, dan bersikap lebih cekatan dalam meredam setiap gejolak yang muncul di internal partai. Alih-alih melakukan itu, sejumlah kelompok pro-Kalla di tubuh DPP Partai Golkar sendiri justru merasa terlampau enjoy dengan duet SBY-JK, dan berniat untuk menyandingkan Kalla untuk kali keduanya di Pilpres 2009 ini. Mereka adalah kelompok yang terkunci oleh bayang-bayang SBY dan Partai Demokrat. Tak hanya itu, sikap manja tersebut juga berimplikasi pada menurunnya kemampuan daya endus politik Golkar, ini dibuktikan oleh seringnya Golkar mengalami kekalahan Pilkada di beberapa provinsi strategis secara politik, dibanding dengan PDIP misalnya. Akumulasi dari semua permasalahan itu membuat mesin politik Golkar menjadi semakin aus, berjalan tidak efektif, sementara agenda pencitraan partai tidak tergarap dengan baik. Keberhasilan Golkar tertutupi oleh pencitraan buruk yang merebak tentang Golkar yang gigantis, besar tapi penyakitan. Walhasil, di saat fase-fase konsolidasi politik (2008-2009), ketika Partai Demokrat dan PDIP terfokus untuk mensinergikan kekuatannya, yang mencuat ke publik dari Golkar justru lebih didominasi oleh berita menguatnya garis faksionalisme, benturan antar kutub kekuatan politik internal, dan menguatnya sentimen kolektif antar kutub yang berujung pada ketegangan dan konflik internal di kalangan elit partai Golkar. Memang, sebagai entitas politik, partai tidak akan homogen, partai pasti heterogen. Tapi jika heterogenitas itu termanage secara professional, maka mustahil Golkar bisa dikalahkan oleh Partai Demokrat, yang notabene baru “anak kemarin sore†dalam jagad perpolitikan Indonesia. Kini, kekhawatiran lahirnya ‘gigantisme Golkar’ menjadi nyata. Besar tubuhnya, tapi dipenuhi oleh beragam penyakit, karena tidak terurus dengan baik. Munculnya swing voters, civic disengagemenet, dan protest voters ini, yang paling diuntungkan adalah Partai Demokrat (PD). PD mendapatkan limpahan suara dari para protest voters cukup signifikan. Jika dalam Rakernas Partai Demokrat tahun 2007 dan 2008 mereka menargetkan 15 persen, maka perolehan suara kali ini telah melampaui batas tersebut. Mengapa Partai Demokrat mampu menggandeng sekian banyak suara mengambang dan kalangan protest voters itu secara massif? Tentu tidak lepas dari performa pemerintahan KBI selama ini. SBY sebagai patront-nya Demokrat, juga berjasa besar meningkatkan derajat angka perolehan suara partainya. Selain itu, kerja-kerja pencitraan memang menjadi agenda besar dalam pemerintahan SBY kali ini. Pencitraan itu tidak hanya terletak pada aspek kebijakan pemerintah, melainkan juga pada area individu secara pribadi. Implikasinya, banyak keputusan yang seharusnya dirumuskan dengan cepat, menjadi lambat diputuskan karena terlampau banyak pertimbangan. Ada pihak yang menilai itu sangat keterlaluan, ada juga yang memahaminya sebagai ekspresi kegamangan, namun ada juga yang mengartikan sikap SBY itu sebagai sikap kehati-hatian. Dalam artian, setiap kebijakan pemerintah harus diamankan dengan menstabilkan situasi politik Senayan. Sementara, kekuatan Demokrat yang hanya sekitar 7 persen di sana, dan Golkar serta partai pendukung pemerintah lainnya, kebanyakan memilih sikap mendua, alias memainkan politik dua muka, supaya lebih gesit mencari keuntungan. Dalam konteks inilah, kemampuan diplomasi dan kedewasaan politik para politisi Demokrat menjadi faktor penting untuk mengelola setiap isu yang berkembang di Senayan, di saat rekan-rekan koalisi sesekali juga beramai-ramai ikut menghajarnya. Sederhananya, dalam politik, yang paling diuntungkan adalah mereka yang bisa mengolah isu dengan baik untuk menangguk keuntungan besar dari pertarungan panjang ini. Kini, terbukti sudah bahwa kesabaran itu manis buahnya. Kemenangan besar Partai Demokrat adalah sebuah pretasi yang patut diapresiasi. Namun jika Demokrat tidak ingin bernasib sama dengan Golkar, maka pengalaman 2004-2009 bisa menjadi pelajaran penting baginya. Jangan lupa, rakyat bagaikan gelombang di lautan. Jika kau tebarkan kotoran di atas lautan, maka kau dan kotoran itu akan digiring oleh ombak ke pinggiran pantai. Sama halnya, jika kini para stakeholders bangsa ini diberi kesempatan untuk mempimpin bangsa, maka jangan kau kotori dia. Jika kau melakukannya, kau akan digiring oleh gelombang rakyat dan waktu, kembali dipinggirkan dan dicatat dengan tinta merah dalam sejarah peradaban bangsa di masa mendatang. *) A. Khoirul Umam, Kandidat master dari School of Political and International Studies Flinders University of South Australia 11 Osborne Street, St Marys, SA, 5042 Phn: +61431011013 ( yid / yid ) sumber : www.detik.com [Details...]
Cara Sunda Memandang Wanita
March 2nd, 2009
Wanita dalam kearifan budaya Sunda mendapat tempat yang terhormat. Malah, dalam beberapa hal derajatnya di atas kaum Adam. Namun, tidak dapat dimungkiri, peran perempuan Sunda kerap pula dimarginalkan. Awéwé mah dulang tinandé atau wanita amat bergantung kepada pria atau suami, serta awéwé mah tara cari ka Batawi, nya cari ngan ti lalaki alias perempuan tidak perlu bepergian ke negeri jauh, cukup melayani suami di rumah saja. Sebab, urusan mencari rezeki mutlak tanggung jawab lelaki. Ini merupakan contoh nyata peribahasa Sunda yang memarginalkan para wanita. Dua peribahasa yang menggambarkan kedudukan wanita lebih rendah ketimbang pria itu, tidak diketahui dengan jelas kapan lahir dan mulai berkembangnya. Namun, saya pikir, kedua peribahasa tersebut lahir dan berkembang setelah Sunda bersinggungan dengan bangsa luar, khususnya bangsa penjajah. Wanita Sunda dilarang untuk maju, apalagi menyamai derajat kaum pria, cukup berurusan sekitar kasur, dapur, dan sumur. Bahkan, sekadar berkunjung atau mencari usaha di Betawi sekalipun tidak diperkenalkan. Jelas, peribahasa ini lahir setelah Sunda mengenal Kota Betawi, ketika Belanda mengubah nama Sunda Kelapa dan Jayakarta menjadi Batavia. Apalagi, tradisi merantau di keluarga Sunda kurang berkembang ketimbang suku bangsa nusantara lainnya. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok merupakan titah lebih baik kumpul bersama keluarga daripada merantau ke daerah tetangga. Bahkan, daerah seberang bagi keluarga Sunda dijadikan tempat untuk menakut-nakuti anak-anak atau membuang penyakit dan sial, indit siah ka sabrang ka palémbang, enyahlah kau ke Palembang. Mungkin ungkapan tersebut lahir manakala Sunda hanya mengetahui daerah yang terjauh adalah Palembang. ** Oleh karena terkungkung oleh keluarga (suami), juga lingkungan tidak mendukung, sangat beralasan wanita Sunda kerap terbelakang, sikap dan pikirannya sempit terimpit. Awéwé mah heureut deuleu pondok léngkah merupakan gambaran wanita Sunda kurang memaksimalkan keandalan akal. Karena akal kurang digunakan, kaum wanita Sunda sering menjadi kambing hitam dan jadi biang kehancuran keluarga, nu geulis jadi werejit nu lenjang jadi baruang alias wanita sumber malapetaka rumah tangga. Meskipun rumah tangga Sunda ayeuna cenderung lebih terbuka, derajat wanita Sunda tak kunjung terangkat. Wanita Sunda dijajah pria sejak baheula. Muhun, wanita Sunda zaman ayeuna sudah lampar alias berani bepergian jauh guna membantu suami dalam mencari rezeki, bahkan banyak yang merantau ke jazirah Arab. Namun, peran wanita tetap direndahkan. Bukan berita aneh ketika istri menjadi TKW ke Arab atau Malaysia, suami yang dikirimi uang bulanan malah selingkuh dan menikahi wanita lain. Ah, wanita Sunda, malang nian nasibnya. Dalam tataran ini jasa Dewi Sartika nyaris tidak dihargai, malah cenderung tidak berbekas sama sekali. Wanita Sunda tetap di bawah ketiak laki-laki. Padahal, dalam kearifan Sunda lama, kedudukan wanita mendapat tempat yang amat terhormat. Wanita selalu didahulukan dan dihormati melebihi laki-laki. Indung tunggul rahayu bapa tangkal darajat alias tiada keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan tanpa doa ibu dan bapak. Sebab, indung nu ngakandung bapa nu ngayuga, tak akan ada kita tanpa kasih sayang ibu dan bapak. Jelas, kedua peribahasa tersebut amat menghormati posisi indung atau ibu. Ibu diucapkan terlebih dahulu sebelum bapak. Hal ini makin menandaskan bahwa wacana Sunda téh Islam-Islam téh Sunda benar adanya. Bukankah Nabi Muhammad saw. mendahulukan menyebut ibu hingga tiga kali sebelum menyebut bapak sebagai orang yang amat menentukan nasib seorang anak? Akan tetapi, peribahasa tersebut tetap tak berpengaruh pada kemajuan wanita dan keluarga jika kita tidak miindung ka waktu mibapa ka jaman. Muhun, kita harus menyesuaikan dan menciptakan perkembangan zaman. Sunda mesti jembar panalar alias terbuka dengan beragam pemikiran. (Djasepudin, alumnus Prodi Sastra Sunda Unpad, tinggal di Kel. Nanggewer, Cibinong, Bogor)*** sumber : www.pikiran-rakyat.com [Details...]
Memuliakan Orang Tua
February 28th, 2009
Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Wujud pemuliaan itu sudah beberapa langkah mendahului gemuruh propaganda sejenis, yang baru-baru saja muncul belakangan ini, dari kalangan Barat. Sebut saja contohnya: jaminan untuk kaum manula, perhatian terhadap kaum jompo dan lain sebagainya. Kenapa demikian? Karena Islam sudah jauh-jauh hari langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. “Telah Kami wasiatkan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.†(Al-Ahqaaf : 15) Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka†“Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.†(An-Nisaa : 36) Perintah itu, bahkan diseiringkan dengan perintah untuk mengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat. Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’. Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!! sumber : ustadzkholid.wordpress.com [1] [1] http://ustadzkholid.wordpress.com/2008/04/15/berbakti-kepada-kedua-orang-tua/ [Details...]
Pendamping Mega-Hidayat Kalahkan Sultan
January 20th, 2009
Jakarta - Siapa pendamping paling disukai bagi Megawati Soekarnoputri? Sebuah survei menunjukkan Hidayat Nur Wahid menempati posisi teratas. Duet Mega-Hidayat mengungguli pasangan Mega-Sultan. Bahkan pasangan Mega-Sultan hanya berada di urutan ketiga. Data ini berdasarkan hasil survei DNA Strategic Communication (Stratcom) yang diterima detikcom Selasa (20/1/2009). Survei dilaksanakan sejak minggu pertama dan kedua Januari 2009. Pengumpulan data ini dilakukan terhadap 1.013 responden di 17 kabupaten/kota dan tersebar di 33 provinsi seluruh Indonesia. Responden dipilih sepenuhnya secara acak dengan metode purposive random. Hasil survei menggunakan margin of error 0.05 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dalam survei ini diketahui, duet Mega-Hidayat dipilih oleh 40 persen responden. Sedangkan Mega-Setiawan Djody mendapat 21 persen suara. Sementara Mega-Sultan HB X yang dalam sejumlah survei diprediksi akan menjadi pesaing terkuat SBY-JK, justru berada di urutan ketiga, dengan suara sebesar 19 persen. Di bawah Mega-Sultan HB X, menyusul pasangan Mega-Akbar Tandjung yang mendapatkan suara calon pemilih 14 persen. Namun jika Mega dipasangkan dengan calon lainnya, angka yang bisa ditembus sangat tipis yakni sebesar 6 persen. Survei ini juga menyandingkan duet pemerintahan SBY-JK yang mampu menembus angka 31 persen. Di bawahnya, duet SBY-Hidayat berada di posisi kedua yakni sebesar 27 persen. Sedangkan jika SBY dipasangkan dengan Sultan HB X, hanya mampu menempel di posisi ketiga dengan 22 persen. Sayangnya, survei ini tidak membandingkan populeritas pasangan SBY dengan pasangan Megawati. "Kami baru akan melaksanakan survei perbandingan antar pasangan itu pada Februari 2009," kata Managing Director DNA Stratcom, Dono B. Baswoko. Selain mensurvei calon wakil presiden dari SBY dan Mega, DNA juga menempati SBY sebagai capres yang menempati urutan paling tinggi sebesar 34 persen. Di posisi kedua, Megawati mengejar dengan angka 28 persen. Sedangkan Hidayat menyusul dengan angka rendah yakni 7 persen. Sultan HB X, Prabowo dan Akbar Tandjung menempel di bawahnya dengan angka 6 persen. Sedangkan untuk Wiranto, calon pemilih hanya memilih sebesar 2 persen. Berikut data lengkap survei tersebut: Persentase capres yang diajukan sendiri oleh masyarakat dan akan mereka pilih jika pemilu dilakukan pada saat pelaksanaan survei: 1. Susilo Bambang Yudhoyono             34% 2. Megawati Sukarnoputri                      28% 3. Hidayat Nur Wahid                                7% 4. Jendral TNI Djoko Santoso                  6% 5. Sri Sultan Hamengkubuwono X          6% 6. Setiawan Djody                                     6% 7. Prabowo Subianto                                5% 8. Akbar Tanjung                                       5% 9. Wiranto                                                  2% 10.Siswono Yudhohusodo                      1% Persentase pasangan SBY – Cawapres yang diajukan sendiri oleh masyarakat dan akan mereka pilih jika pemilu dilakukan pada saat pelaksanaan survei: 1.SBY - JK                                                       31% 2.SBY - Hidayat Nur Wahid                           27% 3.SBY - Sri Sultan Hamengkubuwono X     22% 4.SBY - Setiawan Djody                                  9% 5.SBY – pasangan lain-lain                           11% Persentase pasangan Megawati – Cawapres yang diajukan sendiri oleh masyarakat dan akan mereka pilih jika pemilu dilakukan pada saat pelaksanaan survei: 1.Megawati - Hidayat Nur Wahid                           40% 2.Megawati - Setiawan Djody                                21% 3.Megawati - Sri Sultan Hamengkubuwono X     19% 4.Megawati – Akbar Tanjung                                 14% 5.Megawati – pasangan lain                                    6% ( nik / iy ) <!--// <![CDATA[ /* [id333] Pemilu Center Ads */ OA_show(333); // ]]> --> <!--// <![CDATA[ var ox_swf = new FlashObject('http://openx.detik.com/images/banner_toptv_detik_5.swf', 'Advertisement', '180', '125', '6'); ox_swf.addVariable('alink1', 'http%3A%2F%2Fopenx.detik.com%2Fdelivery%2Fck.php%3Foaparams%3D2__bannerid%3D625__zoneid%3D333__cb%3Dd065540c22__maxdest%3Dhttp%3A%2F%2Fwww.top-tv.co.id%2F'); ox_swf.addVariable('atar1', '_blank'); ox_swf.addParam('wmode','transparent'); ox_swf.addParam('allowScriptAccess','always'); ox_swf.write('ox_6fbd04cd1890a123cd4ddd7fb20a7510'); // ]]> --> <!--// <![CDATA[ /* [id338] Pemilu Right Ads 1 (Article Page) */ OA_show(338); // ]]> --> <!--// <![CDATA[ var ox_swf = new FlashObject('http://openx.detik.com/images/xl-280x125_2.swf', 'Advertisement', '280', '125', '6'); ox_swf.addVariable('alink1', 'http%3A%2F%2Fopenx.detik.com%2Fdelivery%2Fck.php%3Foaparams%3D2__bannerid%3D630__zoneid%3D338__cb%3D4a9c27725f__maxdest%3Dhttp%3A%2F%2Fmicrosite.detik.com%2FXLBusinessSolution%2F'); ox_swf.addVariable('atar1', '_blank'); ox_swf.addParam('wmode','transparent'); ox_swf.addParam('allowScriptAccess','always'); ox_swf.write('ox_6d4550ee731b96f23b48d5a31d635df3'); // ]]> --> sumber : www.detik.com [Details...]
Bank Mandiri Buka 264 Kantor dan 800 ATM Baru
January 18th, 2009
Medan (ANTARA News) - Bank Mandiri tahun ini merencanakan membuka 264 kantor baru, yang dua diantaranya masing-masing di Malaysia dan China, serta menambah 800 Anjungan Tunai Mandiri (ATM). "Pembangunan kantor baru itu masuk dalam anggaran investasi di sektor TI (Teknologi Informasi) yang direncanakan manajemen sebesar 50 juta dolar AS dan non IT sejumlah Rp600 miliar pada tahun ini," kata Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri, Agus Martowardojo, di Medan, Jumat. Adapun 264 kantor baru itu masing-masing 200 kantor mikro, 50 kantor cabang baru, 10 money changger, dua comercial banking centre, dan dua kantor di luar negeri yakni di Kuala Lumpur, Malaysia dan Sanghai, China. Dengan tambahan 264 kantor baru dari 1.000 kantor yang sudah ada hingga 2008, kata Agus, layanan kepada nasabah diharapkan bisa semakin maksimal. Jumlah nasabah Bank Mandiri sendiri, kata dia, terus meningkat atau sudah berkisar tujuh juta dan manajemen ingin memberikan pelayanan yang lebih baik sehingga kepercayaan atas bank yang menyandang predikat bank terbesar dan sangat terpercaya nomor satu dalam soal tata kelola perusahaan. "Di luar pembangunan kantor baru, tahun ini Bank Mandiri juga akan memasang/menambah 800 ATM baru, dan itu semuanya sekali lagi dalam rangka untuk peningkatan layanan kepada masyarakat," katanya. Dengan penambahan investasi yang cukup besar tahun ini, maka aset bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu akan lebih besar dari tahun 2008 per September yang sebesar Rp318 triliun.(*) sumber : www.antara.co.id [Details...]
Ca(wa)pres Sunda, “Quo Vadis”?
January 17th, 2009
Tragis! Inilah tampaknya fenomena yang terjadi saat ini ketika persoalan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009 dipadungdengkeun (diwacanakan), ternyata tidak satu pun dari daftar nama calon pucuk pimpinan nasional itu berasal dari etnis Sunda, Jawa Barat pada umumnya. Padahal nominal etnis ini menempati urutan terbesar setelah entitas Jawa. Yang keluar adalah nama-nama semisal SBY, Jusuf Kalla, Megawati, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Yusril, Fadel Muhammad, Amien Rais, Sutiyoso, Gus Dur, Rizal Ramli, Salahuddin Wahid. Mengapa yang muncul nama-nama itu? Jawaban yang paling gampang adalah karena nama-nama itu adalah pucuk pimpinan partai minimal orang memiliki peran penting di partainya masing-masing. Di sinilah persoalan itu terjadi: ternyata kalau kita identifikasi partai-partai besar, tidak ada satu partai pun yang dipimpin oleh orang Sunda. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa partai adalah kendaraan untuk meraih kekuasaan dan di genggaman kekuasaan kebijakan akan dikeluarkan. Sejauh mana kebijakan itu memiliki concern terhadap kesundaan? Jawabannya sedikit banyak tergantung kepada siapa yang memegang tampuk kekuasaan itu. Seandainya kekuasaan itu harus ada garansi dari ormas, lagi-lagi sulit kita temukan ormas besar yang dipimpin orang Sunda. Sebutlah ormas keagamaan yang banyak umatnya itu adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, realitasnya kedua ormas itu pucuk pimpinannya belum pernah dipegang orang Sunda! Hal sama juga berlaku dengan Majelis Ulama Indonesia, padahal konon katanya Jawa Barat adalah gudangnya pesantren dengan sekian ulama tentunya, tapi untuk menjadi pucuk pimpinan di Majelis Ulama Indonesia nyaris tidak pernah terjadi. Tentu saja kalau bicara tentang AMS (Angkatan Muda Siliwangi), mustahil tidak dipimpin orang Sunda sebab dari penamaannya saja sudah mencerminkan bahwa organisasi ini etnis berbasis hanya pituin orang Sunda. Nilai budaya Tentu saja persoalan kepemimpinan tidak dibentuk dengan cara simsalabim apalagi sekadar jatah-jatahan kaveling. Kepemimpinan sejatinya mencerminkan tentang nilai dari suatu budaya yang menjadi arus utamanya yang kemudian nilai-nilai itu diinternalisasikan dan mengendap dalam alam layar bawah sadar manusia penganut budaya itu. Kepemimpinan mensyaratkan jiwa-jiwa militan, terbuka, kosmopolit, mudah bergaul, dan keterempalian sosial lainnya terutama yang berkaitan dengan kecerdasan emosional. Dengan sangat bagus Haji Hasan Mustapa, seorang yang disebut-sebut sebagai sufi dan filsuf terbesar sepanjang sejarah Sunda, mencatatnya dalam sebuah guguritan: Lamun jalma kudu ngagugu kabeh kana kahayang batur, tangtu ripuh anu ngagugu ngenah anu digugu//Lamun jalma embung ngagugu kana kahayang batur, tangtu ripuh nu hayang digugu, ngenah nu embung ngagugu//Anu matak rapihna lamun silih gugu, satengah jeung satengah, sakadar henteu matak ripuh salah saurang. Orang dengan karakter seperti ini yang dapat kita kategorikan sebagai orang yang akan meraih top leader dan pada gilirannya akan membuka jalan untuk sebuah perbuahan yang diinginkannya sebagaimana lebih lanjut ditulis oleh Haji Hasan Mustapa: Kaula ayeuna ngawakcakeun jalan karahayuan, yen urang sugria manusa kajajaden taya nu boga. Pusakana nyaah ka sasama, jadi rapih pada sili pihapekeun diri, rumasa pada dadasar sabar tawekal. (sekarang saya menjelaskan jalan kesejahteraan, yaitu kita semua merupakan manusia ciptaan tidak ada yang memiliki. Kuncinya kasih kepada sesama, damai saling menitipkan diri, merasa berpijak pada sikap sabar dan pasrah). "Hermeneutika tapa" Absennya ca(wa)pres dari tatar Sunda harus kita baca sebagai bentuk terputusnya akar budaya Sunda masa lalu dengan budaya saat ini. Diskontinuitas kultural ini nampak jelas dari banyaknya idiom dan kearifan tradisional yang mendorong ke arah yang lebih progresif baik dalam bidang politik, ekonomi sosial, bahkan agama namun tidak pernah menjadi satu pengalaman intergral pada manusia Sunda kiwari seperti singer tengah (moderat), gede wawanen (vokal membela kebenaran) ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng ka nu koneng (tegas dalam membela kebenaran), dan someah hade ka semah (terbuka dan transparan) atau ngajaga lembur, akur jeung dulur, panceg na galur. Justru saat ini yang menjadi arus utama tabiat masyarakat Sunda adalah istilah-istilah yang mencerminkan tentang budaya inferior, tidak memiliki daya saing seperti kurung batokeun, heurin ku letah, bengkung ngariung bongkok ngaronyok, pakia-kia, paaing-aing, dan lain sebagainya. Ketika budaya ini yang terinternalisasikan, menjadi satu ketidakmungkinan mengharap lahirnya orang Sunda yang dapat mengambil peran penting dalam tampuk puncak kepemimpinan nasional. Selamanya tatar Sunda akan menjadi basis perebutan suara dan boleh jadi menjadi wilayah pertaruhan untuk partai-partai dan ormas-ormas baru tanpa sedikit pun orang Sundanya sendiri menjadi sang penentu. Kepemimpinan yang memadukan antara gerakan humanisasi dan transendensi (korporat mistik) sejatinya yang sekarang dan terus ke depan akan menjadi tren. Dari kepemimpinan Sunda seperti ini diharapkan terwujud keadaban sosial, tergelar tata kelola negara yang terbebas dari watak korup, tamak, dan basilat. Haluan seperti ini bukankah dulu pernah ditulis dalam koropak warisan masa lalu sebagaimana pernah diteliti almarhum Edi S. Ekadjati: "Mulah cocolongan bubunian, jadi budi nupu manglahangan, ngagetak ngabigal, mati-mati uwang sadu, ngajaur nu hanteu dosa, hiri dengki nata papag, pregi ngajuk ngajalanan." (Janganlah mencuri sembunyi-sembunyi, berpikiran tamak menghalangi, menggertak merampok, suka membunuh orang suci, memeras yang tak berdosa, iri dengki melukai memukul, berani mengawali berutang). Kapan semua itu akan terwujud? Jawabannya sepenuhnya kembali kepada kesediaan manusia Sunda sendiri untuk melakukan reorientasi budaya dan revitalisasi makna kultural yang menyimpang untuk pada akhirnya bisa berkompetisi dalam gelanggang politik dan sektor lainnya dengan militan dan penuh harga diri.*** Oleh ASEP SALAHUDIN, mahasiswa doktoral Unpad, Bandung, pengamat kebudayaan Sunda, dan dosen di IAILM Pesantren Suryalaya. (sumber : www.pikiran-rakyat.com [Details...]
Israel Kian Terancam dan Tak Lagi Superior
January 10th, 2009
Jakarta (ANTARA News) - Belum pernah Israel seterancam seperti sekarang, apalagi belum genap dua tahun lalu, superioritas militernya terhadap Arab dipatahkan Hizbullah di Lebanon. Kini, tak ada satu pun kota Israel yang aman dari serangan Arab meski puluhan skuadron pesawat tempur canggih dan wahana anti rudal menjaga ketat kota-kota Israel. Bahkan saat tank-tank canggih Abrams, lusinan heli tempur Apache dan salah satu pasukan infanteri paling terlatih di dunia menginvasi Gaza sejak 3 Januari 2009, luncuran roket Hamas tetap menghujam bumi Israel. "Hamas masih cukup memiliki roket dan mortir untuk terus ditembakkan jauh ke dalam wilayah Israel sampai beberapa minggu," kata Kepala Litbang Intelijen Militer (Aman), Jenderal Yossi Beidatz, seperti dilansir AFP (6/1). Hamas yang berada di jantung Israel kian mengancam negara Yahudi itu dan didukung rakyatnya terbukti pemilu Palestina Januari 2006 lalu telah memenangkan Hamas dan membuat Israel serta rezim-rezim Arab sekutu AS ketakutan. Israel harus menerima kenyataan, semua pemenang proses demokrasi di Timur Tengah berubah menentangnya, tak terkecuali Turki yang sebelumnya menjadi sahabat kentalnya atau Iran yang kini menjadi musuh paling fanatiknya. Israel juga menghadapi Presiden terpilih AS yang bungkam menyikapi ulah usilnya di Timur Tengah, padahal sebelumnya rezim-rezim baru Washington selalu berhasil dipancing Israel untuk berkomentar. Wayne White, mantan analis Timur Tengah di Departemen Luar Negeri AS, menilai Obama bungkam karena ia menghadapi kompleksitas konflik Gaza dan melihat Israel berlaku bodoh di Gaza. "Jika saya Obama, saya juga akan memilih bungkam," kata Wayne seperti dikutip Washington Times (30/12). Sendirian Ketika Obama akhirnya berbicara, si hitam beradik keturunan Indonesia itu tidak mengisyaratkan ia bersetuju dengan Israel, sebaliknya menyampaikan kalimat yang netral sehingga tak membuat gerah Arab. "Tegasnya, saya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas konflik yang berlaku di wilayah itu," kata Obama seperti dikutip DPA (7/1), tanpa mengomentari legalitas agresi Gaza yang justru diinginkan Israel. Sikap diam Obama adalah kemunduran bagi Israel yang malah menegaskan fokusnya pada perbaikan ekonomi dan dengan cerdik membebankan Gaza pada rezim George Bush yang turut mengarsiteki krisis Gaza. "Saya kira pemerintah Bush sangat nyaman mendukung Israel dan tak melibatkan diri atau mencoba upaya gencatan senjata," kata Scott Lasensky, analis United States Institute of Peace, mengomentari aransemen Bush di Gaza. Sejumlah kalangan bahkan meminta Obama tegas dengan tidak menuruti Israel. "Obama mesti memulai inisiatif baru karena proses damai Annapolis pada November 2007 tidak menghasilkan apa-apa," ulas Nathan Brown, analis Carnegie Endowment for International Peace, menunjuk prakarsa damai kreasi Bush yang menguntungkan Israel semata itu. Jelas, Israel sendirian di Timur Tengah, apalagi Bush yang memanjanya segera raib dari Gedung Putih. Turki yang lama menjadi sekutunya pun menjaga jarak setelah pemerintahan pimpinan AKP enggan menyeret Turki merapat ke Israel. Jangan tanya sikap Eropa karena banyak negara seperti Prancis dan Jerman, geram terhadap ulah Israel yang gemar menyepelekan hukum internasional. "Tuan Presiden (Shimon Peres), anda menghadapi masalah serius dengan dunia internasional dan citra Israel tengah hancur," kata anggota Komisi Hubungan Luar Negeri Uni Eropa Benita Ferrero-Waldner saat menyampaikan sikap Eropa di Gaza. Hanya karena ingin memupus perasaan bersalah atas genosida semasa Perang Dunia Kedua, Eropa ingin terlihat seimbang di Palestina dengan menyeru Hamas mengakhiri serangan roket ke Israel. Sadar Israel sendiri sadar petualangannya di Gaza tak akan sepermanen saat mereka merampas Sinai pada Perang 1967, lagipula ekspedisi kali ini hanya untuk konsumsi pemilu. Israel juga tahu Hamas yang menjadi musuhnya sekarang lebih militan dibanding musuh musuhnya pada masa lalu, diantaranya karena memiliki roket-roket Iran yang menjangkau semua wilayah Israel. Oleh karena itu, agresi Gaza adalah juga pesan Israel pada Iran yang membuatnya menjadi demikian tidak aman dan tak lagi superior. Iran menodong Israel dengan roket Grad dan Fajar tanpa menggelarkan seorang pun tentara. "Iran cukup memasukkan anasir kimia dan biologi pada rudalnya dan hancurlah Negara Yahudi. Itu semua dilakukan secara terselubung melalui Hamas dan Hizbullah sehingga Iran bisa mengklaim diri bersih," kata Profesor Rabbi Daniel Zucker, ketua Americans for Democracy in the Middle-East seperti dikutip Jerusalem Post. Israel juga tak bisa mengandalkan sekutu Arabnya yang belakangan terlihat rapuh dirongrong oposisi yang umumnya senafas dengan Hamas. Keengganan Mesir untuk tegas di Palestina misalnya, lebih karena dimotivasi oleh kekhawatiran Hamas menulari kaum oposisi Mesir. Pandangan serupa dianut rezim Arab moderat lainnya seperti Arab Saudi dan Yordania yang tak ingin shiah Iran menyemangati kaum oposisi. Presiden Husni Mubarak tak saja khawatir Hamas mengancam Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Fatah, tapi juga karena dia memiliki agenda politiknya sendiri, menetralisir oposisi muslim militan, khususnya Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul memang dinyatakan terlarang, namun para aktivisnya yang kini menjadi anggota parlemen dari garis independen telah membentuk kaukus oposisi besar di parlemen di mana tokohnya yang bernama Mohamed Habib menuduh Mubarak bersekongkol dengan Israel. Habib juga menyebut Israel telah mengiris wilayah Arab, menjarah kekayaannya dan menghapus identitas budayanya. Untuk itu, Habib melihat perlawanan Palestina di Gaza adalah garis depan pertahanan Arab guna menghadapi rekayasa Israel. Ekspedisi militer Israel di Gaza adalah memang rekayasa dan petualangan Partai Kadima dalam menaikkan popularitasnya menjelang pemilu legislatif 10 Februari 2009. Kalau dulu PLO atau Hizbullah di Lebanon yang menjadi pion pendongkrak popularitas politik Tel Aviv, maka kini mereka memainkan Hamas sebagai bidak pendongkrak popularitas politik dengan membesar-besarkan ancaman Hamas. Padahal, militansi Hamas adalah reaksi dari embargo tak manusiawi Israel di Gaza. Dengan embargo Gaza, Israel ingin melemahkan Hamas sehingga tak mampu memerintah dan Gaza pun kacau untuk kemudian menjadi pintu masuk bagi penggulingan Hamas oleh Israel. Hamas berupaya menembus blokade itu, mulanya dengan penyelundupan, namun frustasi dan terpaksa mengadopsi serangan bersenjata, satu tindakan yang justru diinginkan Israel karena menjadi pembenar bagi invasi ke Gaza. Pengepungan "Padahal bukan hanya Hamas yang ingin mengakhiri pengepungan Israel, tapi juga seluruh rakyat Palestina. Itu keinginan semua manusia dan bangsa yang bercita-cita hidup sebagai manusia merdeka," kata editor Jerusalem Post, Larry Derfner (31/12). Dengan merusak ketertiban Gaza lewat kampanye militer, total sudah kekacauan di Gaza dan Israel pun percaya Hamas bakal seinferior Fatah. "Hamas tak akan seperti Fatah yang lemah, korup dan tidak populer. Hamas justru akan kian ekstrem karena blokade dan serangan terus menerus Israel hanya membuatnya berpikir sia-sialah bernegosiasi dengan Tel Aviv," kata wartawan AS keturunan Iran, Nir Rosen, dalam tulisannya di laman Aljazeera (30/12). Lebih dari itu, invasi ke Gaza bukan saja mendegradasi citra Israel, namun juga memojokkan sekutu Arabnya. "Damaskus telah menarik diri dari pembicaraan tripartit dengan Tel Aviv dan rakyat Arab murka tak hanya pada Israel dan AS, tapi juga pada pemerintah mereka yang dianggap bersekongkol dengan Washington," tutur Rosen. Tidak itu saja, krisis Gaza telah menajamkan militansi muslim garis keras seluruh dunia sehingga menyulitkan Obama mengampanyekan perdamaian global, satu situasi yang didesain Israel. "Saya telah berbicara dengan para aktivis jihad di Irak, Lebanon, Afghanistan, Somalia dan banyak lagi. Mereka menyebut Palestinalah yang memotivasi gerakan jihad mereka," ungkap Rosen. Tak heran jika rakyat Israel sendiri mulai mengkritisi pendekatan pemerintahnya di Gaza. Dari 81 persen warga yang mendukung kampanye militer ke Gaza, hanya 39 persen yang percaya Hamas bisa digulingkan. Jika pun Israel menang maka kemenangan itu malah mengungkap ketidakmampuan Israel hidup berdampingan dengan bangsa lain dan masyarakat Yahudi pun bertanya apa yang sebenarnya diinginkan para politisi Israel. "Inikah keterbatasan kita sebagai manusia yang dilahirkan kembali dari holocaust (pembasmian etnis semasa Perang Dunia Kedua)?" tanya Sara Roy, cendikiawan Yahudi pengarang "Failing Peace: Gaza and the Palestinian-Israeli Conflict" seperti dikutip Christian Science Monitor (2/1). Sara adalah seorang dari kelompok warga Yahudi yang ingin adil mengkritisi bangsanya, bukan saja demi keadilan universal, namun melihat fakta betapa Israel sekarang sendirian dan tererosi superioritasnya. (*)Oleh Jafar M. Sidik , sumber : www.antara.co.id [Details...]
62,7 Persen Siswi SMP dan SMA tidak Perawan
December 11th, 2008
CIANJUR, (PR).- Sekitar 62,7 persen remaja yang tercatat sebagai pelajar SMP dan SMA di Indonesia, sudah tidak perawan lagi. Data tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak 2008 di 33 provinsi di Indonesia. Demikian dikatakan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif, pada pembukaan Jambore Pusat Informasi dan Konsultasi (PIK) Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan peringatan Hari AIDS Internasional tingkat Jawa Barat di Pancaniti Kab. Cianjur, Rabu (10/12). Kegiatan yang dihadiri Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh itu, dilanjutkan dengan penandatanganan spanduk kegiatan sepanjang kurang lebih 50 meter, sebagai tanda dibukanya kegiatan PIK-KRR tingkat Provinsi Jawa Barat di Kab. Cianjur. Menurut Sugiri, saat ini ada tiga masalah besar yang dihadapi remaja di Indonesia. Selain seks bebas, dua masalah besar lain yang dihadapi remaja adalah narkoba dan AIDS. Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) 2004, sebanyak 78 persen dari 3,2 juta orang yang ketagihan narkoba adalah remaja. Kemudian 54,3 persen dari 15.136 orang pengidap AIDS adalah remaja. "Data ini diperoleh dari Departemen Kesehatan September 2008 lalu," katanya. Ketiga permasalahan tersebut, katanya, akan mengurangi kesempatan remaja mempraktikkan perilaku hidup sehat. Oleh karena itu, Sugiri mengharapkan kerja sama semua pihak, untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi para remaja. Kelompok sebaya Pada kesempatan itu, Kepala BKKBN mengatakan kekagumannya terhadap prestasi Saung Salwa Kubus, yang telah mendapatkan penghargaan sebagai PIK-KRR terbaik tingkat nasional. Menurut dia, salah satu strategi melindungi para remaja dari permasalahan tersebut adalah melalui pendekatan kelompok sebaya, melalui program pembentukan, dan pengembangan PIK-KRR. "Kami ingin mengembangkan PIK-KRR tidak sebatas memberikan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi kepada remaja. Tapi, memberikan kesempatan kepada para remaja untuk ’curhat’ dan diskusi, sehingga bisa mengatasi berbagai stres dan pengaruh negatif," ujarnya. Sementara itu, Kepala BKKBN Kab. Cianjur Sudradjat Laksana menilai, peringatan Hari AIDS Internasional dan Jambore PIK-KRR sangat penting. Ia berharap, acara ini menjadi momentum strategis untuk membina dan menumbuhkembangkan kesadaran, kemampuan, serta keterampilan remaja dalam mempersiapkan dirinya untuk membangun keluarga berkualitas. Menurut Sudrajat, pelaksanaan Jambore PIK-KRR bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran pengetahuan serta perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi remaja. Dengan demikian, kegiatan itu diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran di kalangan remaja, tetapi dukungan keluarga, masyarakat, dan penentu kebijakan dalam menangani masalah kesehatan reproduksi remaja. (A-116)*** sumber : www.pikiran-rakyat.com [1]  [1] http://www.pikiran-rakyat.com [Details...]
Lagi, Bank di AS Bangkrut
November 9th, 2008
Washington - Bank-bank di AS kembali jatuh bangkrut akibat krisis keuangan. Kali ini regulator AS mengambil alih 2 bank di AS secara langsung. Seperti dikutip Reuters, Minggu (9/11/2008), 2 bank itu yakni Franklin Bank SSB dan Security Pacific Bank. Franklin Bank memiliki kantor di Houston sedangkan Security Pacific Bank di Los Angeles. Pemerintah AS terpaksa mengambil alih kedua bank itu karena minimnya cadangan modal yang mereka miliki karena tergerus kredit bermasalah. Franklin Bank selama ini mencoba untuk mencari dana untuk memperkuat modalnya. Kejatuhan Franklin merupakan kejatuhan perbankan yang ke-19 secara keseluruhan pada tahun ini. Jika dihitung dari aset, Franklin Bank merupakan bank besar ketiga di AS yang kolaps tahun ini. Dana nasabah Franklin Bank akan ditalangi oleh Prosperity Bank yang ditunjuk oleh lembaga penjamin simpanan AS, Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC). Manajemen Franklin Bank mengatakan pihaknya sudah menerima penawaran dari berbagai pihak untuk memperkuat permodalan mereka. Sementara itu bank kecil Security Pacific setelah diambil alih FDIC akan dibuka kembali pada hari Senin 10 November mendatang. Security Pacific akan berganti menjadi cabang bank Pacific Western. FDIC memperkirakan transaksi atas dana jaminan kedua bank diperkirakan mencapai US$ 2 miliar. sumber : http://www.detikfinance.com [1] [1] http://www.detikfinance.com [Details...]
BAILOUT apa artinya ?
October 6th, 2008
Apa sih maksud bailout, sering aku baca istilah ini di pembicaraan sektor ekonomi ? , Bailout yang sekarang baru terkenal adalah paket penyelamatan ekonomi berhubung krisis finasial di Amerika Serikat Bail out dibidang ekonomi maksudnya ialah penyelamatan aset-aset negara yang strategis di bidang finansial.Penyelamatan dilakukan dengan mengucurkan dana segar kepasar dengan membeli saham atau surat berhargaseperti; obligasi. penyelamatan dilakukan dengan mengalihkan aset dari yang merupakan aset perusahaan menjadi aset negara. bisa dibilang ini seperti nasionalisasi perusahaan. Bail-out terkenal karena tidak mendapat persetujuan dari DPR AS. karena apa lagi alasanya selain karena AS dikenal sebagai negara liberal.prinsip ekonomi liberal menyebutkan, pasar yang menentukan dan menolak turut campur pemerintah dalam perekonomian, DPR menolak peran pemerintah yang terjadi dalam proses bail-out tersebut. Terjadinya bail out yang terjadi di AS sama seperti di Indonesia saat krisis yang dikenal BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). BLBI dimaksudkan menyelamatkan aset bank swasta dan pemerintah yang bangkrut. Secara harfiah 'bailout' berarti penjaminan. Berkenaan dengan krisis finansial AS yang sangat berpotensi menjadi krisis finansial dalam skala global, pemerintah AS meminta persetujuan senat untuk mengucurkan $700 milyar guna menyelematkan aset-aset negara yang mulai tumbang satu demi satu setiap harinya. Pada hari Senin, waktu Indonesia, senat AS menolak rancangan penjaminan tersebut yang menyebabkan indeks Dow Jones Industrial Average terjun bebas tanpa parasut hingga mencapai kedalaman yang belum pernah tertembus sebelumnya di era modern ini. Hari ini senat akhirnya menyetujui rencana tersebut tapi tampaknya pelaku pasar belum terlalu yakin akan hal tersebut bahkan jika dilihat dari pergerakan pasar-pasar regional, para pelaku masih menganggap situasinya masih belum ada kepastian yang signifikan. kalo diibaratkan sakit, bailout merupakan obat pereda rasa nyeri. bukan obat utk menyembukan perekonomian AS. sumber : diambil : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081001192055AAKM4mH [Details...]


