UMKM dengan Bordir
19 September 2010Sejak kecil kita sering mendengar kata Bordir, mungkin melihat orang yang sedang melakukan bordiran, melihat ada bordiran di pakaian yang kita lihat, atau sekali-kali membaca berita tentang bordir, dan mungkin yang terasa saat ini dengan menggeliatnya pasar ekonomi di Indonesia termasuk di daerah yang tidak bisa dilepaskan juga dengan perkembangan UMKM.
Seni hiasan bordir dari setiap daerah di seluruh dunia mempunyai sejarah dan keunikan masing-masing. Bordir yang merupakan atau bisa dikatakan sebagai karya seni, dari masa ke masa tidak bisa hilang bahkan terus berkembang sejalan dengan berkembangnya dunia mode.
Di era komputerisasi, bordir juga tidak ketinggalan, kini banyak hadir bordir yang instan yang dikerjakan melalui komputer dengan output bordiran yang instan, menarik dan yang pasti dengan harga yang lebih murah. Namun hal ini jangan dijadikan alasan bagi bordir yang dikerjakan manual dengan tangan harus kehilangan pasarnya. Pasar untuk bordir hasil karya tangan tetap ada karena pasar selalu ada segmennya masing-masing.
Bila kita telusuri, hiasan bordir sudah ada sejak dahulu kala. Ketika bordir muncul untuk yang pertama kalinya, bordir termasuk dalam barang yang mewah dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Pada zaman tersebut hiasan bordir dipadukan dengan ornamen dari emas. Di wilayah Eropa Timur, bordir sudah ada sejak zaman Mesir Kuno dan Yunani Kuno. Hal ini terbukti dengan adanya lukisan pada pusara, hiasan bordir pada pakaian, pelapis tempat duduk, dan tenda. Sedangkan untuk wilayah asia, hiasan bordir peerkembanganya dimulai sejak Dinasti Cing dimana hiasan bordir menghiasi jubah kerajaan. Begitu pula di negara-negara lain dimana hiasan bordir tumbuh dan berkembang dengan cirri dan keunikannya masing-masing.
Ragam Bordir Indonesia
Bordir, sangatlah tidak mengherankan apabila di Indonesia sendiri yang memiliki keanekaragaman suku dan budaya telah berkembang berbagai jenis bordir. Sebagai contoh di Lampung telah berkembang bordir sulam usus dan tapis bordir yang memiliki keunikan yang khas serta telah merambah ke dunia internasional. Sulam usus merupakan kain yang disulam dengan menggunakan motif menyerupai usus, sedangkan bordir tapis adalah kain tapis yang merupakan motif khas daerah Lampung yang disulam dengan bordir.
Di Bukittinggi Sumatera Barat dikenal dengan bordir kerancang halus yang khas dengan bordiran halus dengan “lubang lubang†yang terbentuk dari jalinan benang bordir. Proses pembuatan krancang ini sangat rumit dan menyita waktu. Bordir kerancang akan memiliki nilai yang tinggi apabila bordir tersebut memiliki tarikan benang yang pas (tidak terlalu tegang dan tidak terlalu kendur).
Bordir Aceh yang biasanya terdapat di songket, peci, tas, dll turut menarik perhatian pecinta bordir baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain tas, produk kerajinan yang diminati antara lain dompet, sepatu, peci, hiasan dinding dan taplak meja. Motif dasar yang digunakan untuk kreasi yaitu “Gigoe daruet (gigi belalang) dan on labu (daun labu)
Sedangkan untuk daerah Jawa Barat, bordir Tasikmalaya menjadi bordir yang cukup banyak diminati pecinta bordir. Sejumlah sentra industri bordir hingga kini terus berkembang di Tasikmalaya, yang terbesar terdapat di Kecamatan Kawalu terutama di Desa Tanjung, Talagasari, Kersamenak, dan Karikil. Demikian juga industri bordir terdapat di kecamatan Cibeureum, khususnya Desa Mulyasari.
Dengan luasnya wilayah Indonesia pasti bordir yang berkembang dan ada di masing-masing daerah di Indonesia pasti sangat beragam, kalaulah ini bisa di kumpulkan betapa budaya bordir di Negara kita sangat banyak dan beragam, dengan cirri dan keunikan maisng-masing, hal ini akan menjadi kebanggaan, dikembangkan dan dapat diteruskan menjadi asset budaya yang dapat diturunkan kepada anak cucu.
Produk bordir di Indonesia biasanya dalam bentuk mukena, jilbab, dan kain termasuk kebaya. Sejak adanya ASEAN-China Free Trade Agrement (ACFTA), produk bordir banyak digempur oleh bordir-bordir cina yang pada umumnya memiliki harga yang lebih murah. Tetapi hal ini bukan menjadi halangan, untuk mengembangkan kerajian bordir, bahkan ini akan menjadi suatu tantangan,bagi kita semua, Pemerintah, Pengusaha, Pengrajin, Para Desainer dan juga Masyarakat, sehingga akan muncul kreatifitas kerajinan bordir yang lebih unggul dan dapat bersaing dengan produk luar.
Kendala Usaha Bordir
Dalam perkembangannya, bordir Indonesia menghadapi beberapa kendala yang kerap muncul antara lain baik dalam bidang pemasaran, produksi, maupun keuangan/ permodalan. Pemasaran kain bordir baik di dalam negeri maupun di luar negeri biasanya masih dilakukan sendiri oleh pengusaha bordir. Selain itu pengusaha bordir memiliki bargaining position di negara tujuan yang rendah terhadap pedagang di pasar tujuan, sehingga mereka tidak bebas dalam menetapkan harga jual produk
Pada sisi produksi, pengusaha bordir menghadapi kendala kurangnya tenaga terampil yang mengerjakan bordir akibat banyaknya tenaga terampil bordir yang bekerja di Singapura dan Malaysia. Disamping itu, kebutuhan akan bahan baku bordir yang baik dan berkualitas tinggi (seperti benang emas) harus didatangkan dari Singapura sehingga harganya cukup tinggi. Sementara naiknya BBM dan Tarif Dasar Listrik turut serta mempengaruhi biaya produksi bordir. Dan seperti halnya UMKM lainnya, salah satu kendala yang paling umum adalah manajemen, pasar, kualitas, tenaga ahli, desain, manajemen, keterbatasan modal.
Bordir Maju Bersama UMKM
Untuk memajukan usaha bordir bersama UMKM, peran pemerintah perlu ditingkatkan kembali khususnya terkait dengan pembinaan, pengembangan, dan menstimulus pemakaian bordir. Instansi terkait dan perbankan dapat terus membina dan mendukung pengembangan usaha kerajinan ini baik dari segi penerapan teknologi maupun untuk memperoleh akses terhadap permodalan. Pemerintah dapat mengupayakan pelatihan tentang penciptaan desain, tata kelola keuangan, serta efektivitas proses produksi dengan penggunaan mesin bordir dan komputer. Dan untuk menjaga eksistensi generasi pengrajin bordir, maka pemerintah harus berani dalam mengambil kebijakan untuk mendorong ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri menekuni bordir dan menghasilkan bordir sesuai dengan standar kualitas tertentu. Hal ini juga bisa mulai diterapkan di sekolah-sekolah dengan adanya mata pelajaran tambahan mengenai keahlian bordir. Tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah mengingat pemerintah harus menyediakan sarana pendukungnya seperti buku panduan tentang tata cara bordir, memberikan pelatihan cara membordir, serta menyediakan alat bordir yang murah.
Dengan meningkatnya jumlah produksi bordir, maka langkah selanjutnya adalah menstimulus pemakaian bordir di masyarakat. Untuk menstimulus pemakaian bordir dapat dilakukan dengan menciptakan permintaan pasar. Bagaimanakah caranya? Sama halnya pada saat pemerintah mendorong penggunaan batik dengan mewajibkan instansi pemerintah untuk memakai batik yang pada akhirnya meningkatkan permintaan pasar batik, maka cara yang sama dapat ditempuh oleh Pemerintah. Salah satu cara yaitu dengan mewajibkan penggunaan pakaian yang bernuansa bordir daerah masing-masing untuk seragam organisasi khususnya ibu-ibu maupun seragam organisasi lainnya, atau bisa juga dengan menciptakan produk yang bernuansa bordir, atau juga mengembangkan sentra-sentra kerajinan bordir sampai ke tingkat desa, juga bisa terus digalakan pameran-pameran yang bernuansa bordir, hal ini perlu didukung oleh semua fihak untuk dapat mengembangkan dan dapat menciptakan bordir yang berkualitas baik dan dengan tampilan yang menarik yang disesuaikan dengan jamannya, sehingga para pemakainya merasa percaya diri untuk memakai pelengkap yang berrnuansa bordir. Diharapkan dengan kebijakan ini, perkembangan dunia bordir akan meningkat sama halnya seperti batik yang saat ini sedang mem-booming. Hal ini juga sangat diperlukan peranan media masa untuk terus melakukan publikasi mengenai kerajinan bordir, karena peranan media masa sangat besar untuk turut serta mengembangkan bordir di tanah air, seperti halnya yang telah dilakukan untuk batik.
Dari sisi konsumen, perlu juga dilakukan upaya untuk meningkatnya kecintaan dan kebanggaan terhadap produk-produk dalam negeri termasuk bordir. Dengan semakin berkembangnya rasa kecintaan dan kebanggaan terhadap produksi dalam negeri secara otomatis dapat meningkatkan pula jumlah pemakaian produk-produk dalam negeri terutama bordir yang pada akhirnya meningkatkan jumlah permintaan pasar, hal ini pasar untuk bordir juga turut tercipta. Tingginya permintaan pasar terhadap produk bordir perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas produksi dengan menggunakan mesin bordir yang saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Yang akhirnya “UMKM DENGAN BORDIR JUGA BISAâ€
Penulis
Dr. Zaenal Aripin, Ir., M.Si.
Praktisi Perbankan dan Pengamat Pemasaran/
Sekretaris IKA UNPAD Komda Bandung
www.zaenal-aripin.com
http://koran.republika.co.id/koran/0/116366/UMKM_dengan_Bordir
Low Cost Php Scripts & Ebook Online Store
