Wisata Menjadikan UMKM Bergeliat
8 September 2010
INDONESIA terkenal kaya dengan ragam budaya, begitu juga dengan banyaknya peninggalan nenek moyang yang sampai saat ini masih kita rasakan. Bahkan, bukti-bukti peninggalan bersejarah itu dimanfaatkan sebagai daerah kunjungan wisata.
Sebagai contoh di Jawa Barat, kita mengenal seperti Gunung Tangkubanparahu, Candi Cangkuang, dan Situ Bagendit di Garut, Talagawarna Puncak, Situ Ciburuy, Gua Pawon, Situ Cileunca Pangalengan, situs purbakala Cipari Sigugur Kuningan, menjadi tujuan utama wisata.
Berkunjung ke tempat-tempat wisata, kita sering menemui gambaran ketika wisatawan dikerubuti para pedagang, yang tidak saja menawarkan makanan dan minuman, tetapi juga produk-produk kerajinan daerah sekitar.
Hal ini jelas bahwa kalau kita membicarakan masalah pariwisata, otomatis kita juga membahas mengenai penunjang lainnya, termasuk masalah pedagang. Untuk para wisatawan hal tersebut merupakan kebutuhan utama, karena biasanya orang akan berkunjung ke tempat wisata dengan menghabiskan waktu minimal dua jam atau bahkan seharian. Dengan demikian, mereka memerlukan santapan ringan maupun santapan berat, termasuk keinginan membeli cendera mata yang merupakan ciri khas daerah tersebut, sebagai oleh-oleh.
Dengan fenomena tersebut, kiranya tidak berlebihan bila pemerintah bisa lebih memperhatikan pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) melalui pariwisata, di samping terlebih dahulu mengembangkan sarana dan fasilitas di tempat wisata yang akan dijadikan objek pengembangan.
Kita perlu juga lebih fokus untuk mengembangkan suatu daerah wisata disertai dengan pengembangan kewirausahaan di daerah sekitar.
Dimungkinkan, ada keterkaitan antara peningkatan kunjungan wisatawan dan peningkatan pendapatan masyarakat sekitar, yang notabene akan menggerakkan juga terhadap roda ekonomi yang otomatis juga terkait dengan perkembangan UMKM.
Untuk pengembangan pariwisata dan UMKM jelas tidak bisa terlepas dari peran serta pihak pemerintah. Dalam hal ini pemerintah kabupaten/kota, maupun pemerintah provinsi, sebagai stimulus yang selanjutnya bisa mengajak peran serta pihak swasta untuk bergabung dalam pengembangan wisata dan UMKM tersebut.
Kalau perlu, dalam pengembangan daerah wisata, bisa dibuat grand design mana yang akan dikelola pemerintah, mana yang menjadi ranah swasta atau investor, termasuk segmen mana yang bisa diisi oleh UMKM, sehingga dalam pengelolaan selanjutya tidak berbenturan.
Khusus untuk pengembangan UMKM, diperlukan bantuan konsultansi atau pendampingan.
Kita berharap, apabila pola-pola tersebut telah diterapkan, kemungkinan besar wisata memang akan menjadikan UMKM bergeliat. Inilah yang kita harapkan selama ini. Jadi wisata akan menjadi area market yang sangat potensial bagi produk-produk UMKM, yang akhirnya UMKM semakin maju.
Ir. Dr. Zaenal Aripin, M.Si.
Praktisi perbankan dan pengamat pemasaran, Sekretaris IKA Unpad Komda Bandung.
sumber : http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=155410
