Kenapa Jabar dan Banten Selatan Identik dengan Kemiskinan?
14 March 2010Ketika sebagian wartawan Kompas sibuk meliput kampanye yang dimulai Senin lalu, saya justru harus meninggalkan keriuhan yang ditimbulkan dari hajat lima tahunan yang menghabiskan dana triliunan rupiah itu. Saya mendapat tugas untuk melakukan perjalan menyusuri lintas selatan Jawa dari ruas Pangandaran hingga ke Ujung Kulon.
Dari perjalanan selama sepekan, ada satu yang khas di Jabar dan Banten Selatan yakni kemiskinan. Kalaupun ada beberapa daerah yang ‘hidup’, itu tak lebih seperti sebatang lilin yang menerangi Gelora Bung Karno. Dalam benak saya terpikir apakah bangsa ini tak bisa lebih maju dari pemerintah Kolonial Belanda. Pada zaman penjajahan kolonial, mereka menempatkan wilayah selatan Jawa sebagai wilayah jauh sehingga dalam peta pun, wilayah selatan di letakkan di sebelah atas. Konsekuensinya, Surabaya ada di sebelah kiri kita dan Anyer ada di sebelah kanan kita. Peta terbalik yang diterbitkan pemerintah Kolonial itu bukan kebetulan, tetapi kesengajaan.
Mereka memang menempatkan wilayah selatan sebagai wilayah yang jauh, yang sulit ditempuh dan dijangkau. Oleh karena itu, fokus pembangunan dilakukan di wilayah utara Jawa yang menurut mereka lebih dekat jika dilihat dari strategi penguasaan laut dan transportasi. Tak heran, ketika zaman kolonial, wilayah utara Jawa maju pesat sedangkan wilayah selatan tak tersentuh.
Jadi ketika hari ini kemiskinan dan keterbelakangan infrastruktur di selatan masih terjadi, apakah bangsa kita sudah lebih maju dari pemikiran pemerintah Kolonial?
Ada jalan sepanjang 25 kilometer di lintas selatan Jabar yang tak bisa dilalaui ketika musim hujan oleh kendaraan berpenggerak dua roda. Kalau itu terjadi di luar Pulau Jawa, barangkali masih menjadi hal lumrah. Namun, ini Pulau Jawa yang sejak dulu sudah menjadi pertumbuhan ekonomi. Hampir tak masuk akal.
Melihat buruknya infrastruktur, wajar jika banyak daerah di Jabar dan Banten selatan yang miskin. Padahal, potensi di selatan tak kalah bagusnya jika dibandingkan dengan potensi di utara. Salah satu contoh adalah pengembangan kawasan Palabuhanratu, Pangandaran, atau Bayah. Kalau serius digarap, ternyata beberapa wilayah selatan bisa juga berkembang. (http://umum.kompasiana.com)
