Cara Sunda Memandang Wanita
2 March 2009Wanita dalam kearifan budaya Sunda mendapat tempat yang terhormat. Malah, dalam beberapa hal derajatnya di atas kaum Adam. Namun, tidak dapat dimungkiri, peran perempuan Sunda kerap pula dimarginalkan. Awéwé mah dulang tinandé atau wanita amat bergantung kepada pria atau suami, serta awéwé mah tara cari ka Batawi, nya cari ngan ti lalaki alias perempuan tidak perlu bepergian ke negeri jauh, cukup melayani suami di rumah saja. Sebab, urusan mencari rezeki mutlak tanggung jawab lelaki. Ini merupakan contoh nyata peribahasa Sunda yang memarginalkan para wanita. Dua peribahasa yang menggambarkan kedudukan wanita lebih rendah ketimbang pria itu, tidak diketahui dengan jelas kapan lahir dan mulai berkembangnya. Namun, saya pikir, kedua peribahasa tersebut lahir dan berkembang setelah Sunda bersinggungan dengan bangsa luar, khususnya bangsa penjajah. Wanita Sunda dilarang untuk maju, apalagi menyamai derajat kaum pria, cukup berurusan sekitar kasur, dapur, dan sumur. Bahkan, sekadar berkunjung atau mencari usaha di Betawi sekalipun tidak diperkenalkan. Jelas, peribahasa ini lahir setelah Sunda mengenal Kota Betawi, ketika Belanda mengubah nama Sunda Kelapa dan Jayakarta menjadi Batavia. Apalagi, tradisi merantau di keluarga Sunda kurang berkembang ketimbang suku bangsa nusantara lainnya. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok merupakan titah lebih baik kumpul bersama keluarga daripada merantau ke daerah tetangga. Bahkan, daerah seberang bagi keluarga Sunda dijadikan tempat untuk menakut-nakuti anak-anak atau membuang penyakit dan sial, indit siah ka sabrang ka palémbang, enyahlah kau ke Palembang. Mungkin ungkapan tersebut lahir manakala Sunda hanya mengetahui daerah yang terjauh adalah Palembang. ** Oleh karena terkungkung oleh keluarga (suami), juga lingkungan tidak mendukung, sangat beralasan wanita Sunda kerap terbelakang, sikap dan pikirannya sempit terimpit. Awéwé mah heureut deuleu pondok léngkah merupakan gambaran wanita Sunda kurang memaksimalkan keandalan akal. Karena akal kurang digunakan, kaum wanita Sunda sering menjadi kambing hitam dan jadi biang kehancuran keluarga, nu geulis jadi werejit nu lenjang jadi baruang alias wanita sumber malapetaka rumah tangga. Meskipun rumah tangga Sunda ayeuna cenderung lebih terbuka, derajat wanita Sunda tak kunjung terangkat. Wanita Sunda dijajah pria sejak baheula. Muhun, wanita Sunda zaman ayeuna sudah lampar alias berani bepergian jauh guna membantu suami dalam mencari rezeki, bahkan banyak yang merantau ke jazirah Arab. Namun, peran wanita tetap direndahkan. Bukan berita aneh ketika istri menjadi TKW ke Arab atau Malaysia, suami yang dikirimi uang bulanan malah selingkuh dan menikahi wanita lain. Ah, wanita Sunda, malang nian nasibnya. Dalam tataran ini jasa Dewi Sartika nyaris tidak dihargai, malah cenderung tidak berbekas sama sekali. Wanita Sunda tetap di bawah ketiak laki-laki. Padahal, dalam kearifan Sunda lama, kedudukan wanita mendapat tempat yang amat terhormat. Wanita selalu didahulukan dan dihormati melebihi laki-laki. Indung tunggul rahayu bapa tangkal darajat alias tiada keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan tanpa doa ibu dan bapak. Sebab, indung nu ngakandung bapa nu ngayuga, tak akan ada kita tanpa kasih sayang ibu dan bapak. Jelas, kedua peribahasa tersebut amat menghormati posisi indung atau ibu. Ibu diucapkan terlebih dahulu sebelum bapak. Hal ini makin menandaskan bahwa wacana Sunda téh Islam-Islam téh Sunda benar adanya. Bukankah Nabi Muhammad saw. mendahulukan menyebut ibu hingga tiga kali sebelum menyebut bapak sebagai orang yang amat menentukan nasib seorang anak? Akan tetapi, peribahasa tersebut tetap tak berpengaruh pada kemajuan wanita dan keluarga jika kita tidak miindung ka waktu mibapa ka jaman. Muhun, kita harus menyesuaikan dan menciptakan perkembangan zaman. Sunda mesti jembar panalar alias terbuka dengan beragam pemikiran. (Djasepudin, alumnus Prodi Sastra Sunda Unpad, tinggal di Kel. Nanggewer, Cibinong, Bogor)*** sumber : www.pikiran-rakyat.com
