www.zaenal-aripin.com

Blog Zaenal Arifin

Search:



« PreviousNext »

Ca(wa)pres Sunda, “Quo Vadis”?

17 January 2009

Tragis! Inilah tampaknya fenomena yang terjadi saat ini ketika persoalan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009 dipadungdengkeun (diwacanakan), ternyata tidak satu pun dari daftar nama calon pucuk pimpinan nasional itu berasal dari etnis Sunda, Jawa Barat pada umumnya. Padahal nominal etnis ini menempati urutan terbesar setelah entitas Jawa. Yang keluar adalah nama-nama semisal SBY, Jusuf Kalla, Megawati, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Yusril, Fadel Muhammad, Amien Rais, Sutiyoso, Gus Dur, Rizal Ramli, Salahuddin Wahid.

Mengapa yang muncul nama-nama itu? Jawaban yang paling gampang adalah karena nama-nama itu adalah pucuk pimpinan partai minimal orang memiliki peran penting di partainya masing-masing. Di sinilah persoalan itu terjadi: ternyata kalau kita identifikasi partai-partai besar, tidak ada satu partai pun yang dipimpin oleh orang Sunda. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa partai adalah kendaraan untuk meraih kekuasaan dan di genggaman kekuasaan kebijakan akan dikeluarkan. Sejauh mana kebijakan itu memiliki concern terhadap kesundaan? Jawabannya sedikit banyak tergantung kepada siapa yang memegang tampuk kekuasaan itu.

Seandainya kekuasaan itu harus ada garansi dari ormas, lagi-lagi sulit kita temukan ormas besar yang dipimpin orang Sunda. Sebutlah ormas keagamaan yang banyak umatnya itu adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, realitasnya kedua ormas itu pucuk pimpinannya belum pernah dipegang orang Sunda! Hal sama juga berlaku dengan Majelis Ulama Indonesia, padahal konon katanya Jawa Barat adalah gudangnya pesantren dengan sekian ulama tentunya, tapi untuk menjadi pucuk pimpinan di Majelis Ulama Indonesia nyaris tidak pernah terjadi. Tentu saja kalau bicara tentang AMS (Angkatan Muda Siliwangi), mustahil tidak dipimpin orang Sunda sebab dari penamaannya saja sudah mencerminkan bahwa organisasi ini etnis berbasis hanya pituin orang Sunda.

Nilai budaya

Tentu saja persoalan kepemimpinan tidak dibentuk dengan cara simsalabim apalagi sekadar jatah-jatahan kaveling. Kepemimpinan sejatinya mencerminkan tentang nilai dari suatu budaya yang menjadi arus utamanya yang kemudian nilai-nilai itu diinternalisasikan dan mengendap dalam alam layar bawah sadar manusia penganut budaya itu.

Kepemimpinan mensyaratkan jiwa-jiwa militan, terbuka, kosmopolit, mudah bergaul, dan keterempalian sosial lainnya terutama yang berkaitan dengan kecerdasan emosional.

Dengan sangat bagus Haji Hasan Mustapa, seorang yang disebut-sebut sebagai sufi dan filsuf terbesar sepanjang sejarah Sunda, mencatatnya dalam sebuah guguritan:

Lamun jalma kudu ngagugu kabeh kana kahayang batur, tangtu ripuh anu ngagugu ngenah anu digugu//Lamun jalma embung ngagugu kana kahayang batur, tangtu ripuh nu hayang digugu, ngenah nu embung ngagugu//Anu matak rapihna lamun silih gugu, satengah jeung satengah, sakadar henteu matak ripuh salah saurang.

Orang dengan karakter seperti ini yang dapat kita kategorikan sebagai orang yang akan meraih top leader dan pada gilirannya akan membuka jalan untuk sebuah perbuahan yang diinginkannya sebagaimana lebih lanjut ditulis oleh Haji Hasan Mustapa: Kaula ayeuna ngawakcakeun jalan karahayuan, yen urang sugria manusa kajajaden taya nu boga. Pusakana nyaah ka sasama, jadi rapih pada sili pihapekeun diri, rumasa pada dadasar sabar tawekal. (sekarang saya menjelaskan jalan kesejahteraan, yaitu kita semua merupakan manusia ciptaan tidak ada yang memiliki. Kuncinya kasih kepada sesama, damai saling menitipkan diri, merasa berpijak pada sikap sabar dan pasrah).

“Hermeneutika tapa”

Absennya ca(wa)pres dari tatar Sunda harus kita baca sebagai bentuk terputusnya akar budaya Sunda masa lalu dengan budaya saat ini. Diskontinuitas kultural ini nampak jelas dari banyaknya idiom dan kearifan tradisional yang mendorong ke arah yang lebih progresif baik dalam bidang politik, ekonomi sosial, bahkan agama namun tidak pernah menjadi satu pengalaman intergral pada manusia Sunda kiwari seperti singer tengah (moderat), gede wawanen (vokal membela kebenaran) ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng ka nu koneng (tegas dalam membela kebenaran), dan someah hade ka semah (terbuka dan transparan) atau ngajaga lembur, akur jeung dulur, panceg na galur.

Justru saat ini yang menjadi arus utama tabiat masyarakat Sunda adalah istilah-istilah yang mencerminkan tentang budaya inferior, tidak memiliki daya saing seperti kurung batokeun, heurin ku letah, bengkung ngariung bongkok ngaronyok, pakia-kia, paaing-aing, dan lain sebagainya. Ketika budaya ini yang terinternalisasikan, menjadi satu ketidakmungkinan mengharap lahirnya orang Sunda yang dapat mengambil peran penting dalam tampuk puncak kepemimpinan nasional. Selamanya tatar Sunda akan menjadi basis perebutan suara dan boleh jadi menjadi wilayah pertaruhan untuk partai-partai dan ormas-ormas baru tanpa sedikit pun orang Sundanya sendiri menjadi sang penentu.

Kepemimpinan yang memadukan antara gerakan humanisasi dan transendensi (korporat mistik) sejatinya yang sekarang dan terus ke depan akan menjadi tren. Dari kepemimpinan Sunda seperti ini diharapkan terwujud keadaban sosial, tergelar tata kelola negara yang terbebas dari watak korup, tamak, dan basilat. Haluan seperti ini bukankah dulu pernah ditulis dalam koropak warisan masa lalu sebagaimana pernah diteliti almarhum Edi S. Ekadjati: “Mulah cocolongan bubunian, jadi budi nupu manglahangan, ngagetak ngabigal, mati-mati uwang sadu, ngajaur nu hanteu dosa, hiri dengki nata papag, pregi ngajuk ngajalanan.” (Janganlah mencuri sembunyi-sembunyi, berpikiran tamak menghalangi, menggertak merampok, suka membunuh orang suci, memeras yang tak berdosa, iri dengki melukai memukul, berani mengawali berutang).

Kapan semua itu akan terwujud? Jawabannya sepenuhnya kembali kepada kesediaan manusia Sunda sendiri untuk melakukan reorientasi budaya dan revitalisasi makna kultural yang menyimpang untuk pada akhirnya bisa berkompetisi dalam gelanggang politik dan sektor lainnya dengan militan dan penuh harga diri.***

Oleh ASEP SALAHUDIN, mahasiswa doktoral Unpad, Bandung, pengamat kebudayaan Sunda, dan dosen di IAILM Pesantren Suryalaya. (sumber : www.pikiran-rakyat.com

Archived in Umum | Trackback | del.icio.us | Top Of Page

Feedback