Bail Out 700 Miliar USD dan Recovery Jangka Panjang
6 October 2008Rencana pemerintah US untuk melakukan penyelamatan terhadap krisis lembaga keuangan pada tanggal 16 September 2008 telah mengangkat bursa global dalam beberapa hari. Rencana tersebut membuat Dow Jones Indeks menguat, indeks regional mengalami peningkatan hingga 4% sampai 7%, begitu juga dengan JCI yang menguat 100 poin lebih.
Kegembiraan sesaat akan adanya komitmen pemerintah US serta langkah langkah yang ditempuh untuk menyelamatkan perekonomian dari resesi yang bernilai 700 Miliar USD ternyata kurang mendapatkan respon positif dari masyarakat US. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa warga AS menentang rencana pemerintah untuk menyelamatkan keuangan yang sakit. Mereka menyalahkan Wall Street dan Bush atas krisis kredit tersebut. Mereka juga berpendapat bahwa bukan kewajiban pemerintah untuk menyelamatkan perusahaan sakit dari uang pembayar pajak.
Bail-out akan dilakukan pemerintah US adalah terhadap ekposur surat utang yang memiliki kualitas buruk terutama pada lembaga keuangan dan perbankan. Jika tidak dilakukan bail-out, kondisi ini dikhawatirkan akan mendorong terciptanya sistemik efek sektor keuangan yang akan dapat menjadi pemicu resesi perekonomian secara keseluruhan. Beberapa hal yang menjadi keraguan adalah kondisi kekinian dari defisit anggaran US telah mencapai 1.9% dari PDB, dengan adanya bail out maka akan mendorong defisit menjadi 7% dari PDB. Selain defisit anggaran, kondisi ini akan mendorong terdepresiasinya nilai tukar USD terhadap mata uang utama dunia, terutama Euro. Selain dua hal diatas, hal lain yang timbul adalah penurunan rating kredit US akibat ekposur surat utang yang akan semakin besar.
Terlepas dari permasalahan yang sekiranya menghadang di masa datang, prioritas utama dalam penanganan adalah pencegahan terjadi sistemik efek terhadap lembaga keuangan yang akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap lembaga keuangan. Kondisi ini lebih jauh akan berdampak terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Permasalahan utama yang saya lihat dalam perekonomian US beberapa tahun belakangan ini adalah tingkat pertumbuhan perekonomian yang rendah, tingginya angka pengangguran, defisit anggaran belanja negara, depresiasi nilai tukar USD, berkurangnya konsumsi akibat turunnya daya beli. Permasalahan yang kini timbul tidak terlepas dari garis strategi kebijakan makro ekonomi US. Pada tahun 2002 hingga 2004 tingkat bunga The Fed berkisar antara 1%-1.75% yang membuat tumbuhnya kredit pembiaayaan terutama untuk sektor perumahan. Kondisi tingkat bunga rendah mendorong tumbuh dan berkembangnya sektor properti dan pembiayaannya. Dengan syarat yang mudah seseorang yang tidak memiliki pendapatan dan pekerjaan tetap diberikan kesempatan untuk mendapatkan properti dengan cicilan yang ringan. Pengalihan cicilan bank atau sub-prime lender menjadi sekuritas derivatif adalah masalah berikut yang ternyata saat ini dunia tengah mencemaskan akan terjadinya resesi di US.
Pada Saat kepemimpinan Allan Grenspan, Bush mengeluarkan paket stimulus perekonomian dengan tingkat bunga rendah dan pemotongan pajak yang bertujuan untuk mendorong terciptanya iklim perekonomian yang akan mendorong pertumbuhan. Kondisi perekonomian US pada saat itu mulai terlihat dengan adanya penurunan daya saing terutama dalam bidang manufaktur, IT, dan pertanian. Sektor yang mampu terus tumbuh dan tidak mengalami competitive devaluation adalah perumahan dan konstruksi. Dua sektor ini terus tumbuh dengan cepat dan booming sehingga menciptakan kondisi yang terus menggelembung (bubble).
Pernyataan Greesspan saat itu, ”we will keep our interest rate low for a considerable period time” tidak berlangsung lama. Ancaman depresiasi nilai tukar US terhadap mata uang utama dunia, dan tingginya inflasi membuat tingkat suku bunga the Fed terus merangkak naik. Hingga Semester I (Juni 2006), the Fed Fund Rate telah mencapai 5.5%. Kondisi ini akhirnya memukul peminjam sektor perumahan karena semakin tingginya cicilan dan sulitnya untuk memenuhi pembayaran pokok terhadap properti mereka. Anjloknya harga perumahan telah membuat nilai surat utang yang diderivasikan dari cicilan kredit peminjam rumah telah menciptakan permasalahan yang jadi kompleks. Nilai properti mereka turun hingga 10% akibat banyaknya terjadi penyitaan terhadap rumah – rumah dari kredit yang macet. Nilai surat derivasi kredit rumah dalam bentuk CDO (Collateralized Debt Obligation) mengalami penurunan nilai hingga 40%.
Rencana pemerintah US untuk melakukan bail-out surat utang bermasalah dari sistem keuangan di US dengan kondisi tertentu dapat menyebabkan dan mempertahankan kembali kepercayaan investor terhadap sistem keuangan. Namun kondisi ini hanya akan efektif dalam jangka pendek saja. Saya senada dengan pernyataan Dr.Sri Mulyani dalam harian investor yang mengatakan bahwa “bail-out pemerintah US hanya efektif dalam jangka pendek”. Sebuah analogi yang menguatkan dari data dan fakta yang dipaparkan diatas adalah bagaimana terjadinya bubble di sector properti dan turunnya pendapatan masyarakat akibat berkurangnya daya saing US. Suntikan 700 Miliar USD terhadap sistem keuangan ibarat memberikan vitamin C terhadap tubuh yang sedang lemah, namun akar dari permasalah bukan ada disitu melainkan kanker yang akan menggerogoti tubuh secara bertahap. by. Rully J. Anwar , sumber . http://forum.detik.com/showthread.php?t=62033.
